Well well … akhirnya bisa ngalahin rasa males tuk ngetik dan ungkapin uneg2 selama ini.

Udah gw ketik lama ini mah. Ga gw cepet2 publish krn ada bbrp org yg annoying bgt, bikin gosip2 ga jelas. Bahwa Fernando (si anjing yg dikurung dikandang burung dr agustus taon lalu ini) ga sanggup gw urus lah, bla bla bla. Fuck it.

Entah apa yg bikin males. Padahal ya tinggal duduk depan laptop dan utak utik dikit.

Mungkin gw ngerasa waktu gw lebih enak, lebih berguna dan lebih baik buat bermain sama anak2 gw. Ya, those unwanted, abused, abandoned cats and dogs.

Karena sambil ngoprek BB gw yg crashed pas rescue tadi siang di Gajah Mada, ya mau gak mau sekalian nulis lah ya. Udah mandi, lemes pun dateng. Udah nyaman masa masih males juga, kebangetan. hihihi …

Eh, backsound saat gw ngetik ini, keren. Terlupa karena udah agak lama ni lagu, keingetan pas malam2 makan junk food serampungnya ambil 3 puppies 3 bulan di area Cengkareng sebelum mereka dibabat sama warga, jam berapa tu ya… hmmm … sekitar jam 01.30. Terdengar lagu yg buat gw mewakili banget. saat ada bersama anak2 ini. Hidup Ini Indah – Dewa. Lemme sing it for you, in edited one. Hidup ini indah … Bila asu selalu …. Ada disisimu setiap waktu … hingga aku hembuskan nafas yang terakhir …. Heeyyaaa ๐Ÿ˜€

Gini. hehehe … yuk ah …

Ada laporan masuk ke Ina, salah satu staff handal di Animal Defenders, tentang anjing yg dikurung di kandang burung, keujanan kepanasan tanpa makanan dan minuman. Pelapor dengan gemetar sampe nangis telp si Ina, bilang tolongin anjing ini. Dia dulu pernah liat anjing yg sama, dikandang yg sama, dilokasi yg sama, pada bulan agustus 2012, saat dia ada acara barbeque bersama kawan yg tinggal di kompleks Ubud Kencana, Lippo Karawaci. Pada saat itu, kondisinya masih normal. Dan pada saat dilaporkan, minggu ketiga Maret 2013, kondisinya mengenaskan. Ina pun meluncur ke lokasi, tuk konfirmasi keadaan. Si bengkak ini telp gw, menyatakan apa kondisi yg benar adanya. Merinding juga gw liat fotonya. Hebat anak ini, semangat hidupnya gede bener. Lo bayangin deh cuy, itu dari agustus tahun lalu dalam kandang burung. keujanan, kepanasan. Ah gela. Eits, sebentar. Dia kok masih bisa hidup sampe sekarang? ini yg jadi pertanyaan. selidik, ternyata ada beberapa tetangga yg suka memberikan dia makan dan minum. Prihatin dan kemanusiaan tetangga ini yg membuat si anjing, yg kemudian kami namakan Fernando, tetap hidup. Beberapa kali tetangga menegur dan memohon agar dilepaskan, tapi gak di gubris pemilik yg menurut security, “baru” sebulan ini pindah rumah namun sesekali datang ke rumah ini, masuk ke rumah lalu keluar lagi, tanpa ngurusin si anjing di kandang burung ini.

Wokeey, berdasarkan laporan dan konfirmasi lapangan, Animal Defenders memutuskan tuk menindak lanjuti dengan bentuk rescue dan evakuasi hewan ini, apapun caranya. Ina saat konfirmasi kondisi, mencoba menghubungi ketua Paguyuban (semacam RT disana) dan mendapatkan keterangan bahwa mereka menyarankan tuk koordinasi dengan security. Meluncurlah ke Security. Sesampainya disana, security menyatakan bahwa mereka tidak berwenang akan hal ini, diminta kami tuk menghadap ke TMD (Town Management Development).

Senin siang, team advance merapat ke lokasi, memberikan makan dan minum sebagai pertolongan pertama. Team negosiator berangkat sore, sepulangnya Ina dari kantor, gw jemput bareng si Achonk maricong.

Sesampainya disana, gw liat si Fernando udah dielus2 team advance yg terdiri dari Mia, Kelik dan kawannya. tanpa banyak buang waktu, gw coba analisis kondisi si Fernando ini jamuran, malnutrisi, dan jemarinya agak susah tapak tanah karena kelamaan di sangkar burung dan kuku2nya udah panjang2 kaya jenglot.

Team advance bilang, didalam rumah ada 2 anjing lagi dengan kondisi lemas. Tiada celah satupun bagi team tuk bisa lemparkan makanan atau memberikan air minum. Ini yg bikin kita panik. Bingung.

Fernando segera kami bawa ke salah satu klinik terdekat, Laras Satwa. Bad luck, dokter prakteknya udah tutup. Geser beberapa ruko sebelahnya, kami coba ke Madagascar, sampingnya. Sama juga. Lalu gw kontak Rayi, salah satu aktivis penyayang hewan militan juga yg tinggal didaerah sini. Beliau coba telp lsg ke dokter di Laras Satwa. Ga lama kemudian, datang berita bagus. kami disuruh langsung masuk ke lantai dua dimana dokter hewan tsb berada.

Fernando mendapatkan pertolongan pertama dan diagnosa dia mirip. Jamuran, Malnutrisi, Infeksi telinga / otitis. Dibekali obat, dan disarankan agar pemberian obat ini setelah Fernando adaptasi dengan lingkungan baru. Fernando lalu kami bawa pulang, ke Rumah Singgah Mini, alias ya rumah gw sendiri yg udah disulap jadi kandang. hehehe …

Target berikut adalah menyelamatkan 2 anjing yg terjebak dalam rumah kosong itu. Gak mudah mendapatkan ijin masuknya. Upaya kami meminta ijin evakuasi hewan malang ini nyangkut rasanya, karena disuruh menunggu hasil koordinasi internal mereka dengan Animal Control. Tunggu punya tunggu, hari berganti, Animal Control ini menyatakan, bahwa mereka ga bisa ambil kalo ga ada ijin pemilik, dan mereka hanya akan urus hewan yg ada di luar rumah penghuni.

Selasa kami balik lagi ke lokasi. Nihil. Mendekat ke lokasi pun kami udah dilarang oleh security di pintu masuk cluster ini.

Kami atur skenario. Pertama jika benar2 tanpa hasil tuh permohonan, kita akan desak melalui social media dan menggalang kawan2 tuk melancarkan gelombang protes ke pengembang terkait. Skenario berikut adalah mencari kawan Lawyer yg pro satwa serta polisi sebagai saksi, meminta perwakilan dari TMD dan security serta warga mendampingi kami tuk membuka paksa pintu hanya untuk mengambil / evakuasi 2 anjing tersebut, lalu mengganti kerusakan serta menyerahkan kunci itu ke pengelola / paguyuban.

Rabu kami bersiap sejak pagi, menanti koordinasi antar pihak yg kami inginkan datang bersama.

Tiba2 datang kejutan. Security setempat menelpon Ina bilang bahwa rumah target udah rame, dimohon kami segera hadir. Rame? rame siapa? ada apa ? agak aneh. kami belum mengutus tim tuk berangkat ke lokasi. “Disini sudah ada kawan2 dari animal defenders, udah buka paksa pintunya, dan pemilik rumah marah2”. DANG!!! apa2an nih ? kok security bilang ada animal defenders di lokasi, sedangkan komando ada di gw. ga bener nih. langsung bersiap menuju lokasi, tapi timbul inisiatif tuk telp si security. gw minta nomer telp si pemilik rumah itu. dapet. Timothius namanya. gw telp baik2, tapi si bapak ini ngamuk2 dan bilang “kembalikan anjing saya yg di sangkar burung” dan ada kata2 “pencurian” serta mau dilaporkan ke polisi. lalu telp ditutup. Gw telp lagi. sama aja, diseberang sana, suara org teriak2. Naiklah tensi gw ya. Hey, pak. bisa bicara baik2 gak? masa saya yg telp dan omong baik2 dibentak2 lalu tutup telp. “pulangkan anjing saya”. lalu ditutup lah telpnya lagi. gw telp lagi. bad luck. direject. buat gw, cukup.

Dapat informasi, bahwa beliau ini melaporkan gw ke Pos Pol Taman Ubud, entah dengan pasal apa. mungkin Pencurian ya seperti yg beliau katakan via telp. tapi setau gw, Pospol gak bisa buat laporan polisi. minimal Polsek lah ya. bodo amat. gw tanggapi serius keinginan beliau maju ke polisi. gw sendiri meminta advice dari pak David Tobing, lawyer yg kebetulan juga penyayang binatang. sesuai instruksi beliau, gw persiapkan surat2 pendukung seperti statement / surat pernyataan kondisi hewan saat pertama kali datang ke klinik.

Meluncurlah gw ke lokasi.Sesampainya di taman ubud kencana, ada bapak Gustav dan Ibu Deani dari Daya Animal Rescue, perbantuan yg mengagetkan. Insan2 menakjubkan. Eh dilokasi ternyata ada tante fifi dan beberapa kawannya. Ternyata mereka ini melakukan pembongkaran paksa pintu rumah target, dan disaat yg sama, datang pemilik rumah. rupanya ini yg membuat tensi pemilik rumah meninggi dan heboh meminta Fernando dikembalikan.

Bapak2 security dan perwakilan TMD ini rame banget. Gw turun dari mobil dan menghampiri kumpulan org2 yg ada didepan rumah target. jabat tangan mereka satu2 sambil perkenalkan diri. “Apa yg sekiranya bisa saya bantu pak? tadi nyariin saya ya?” Si owner Fernando ini minta anjingnya dikembalikan, gw bilang gak akan, lha selama ini kenapa ditelantarkan? Bisa saja kita bawa ke meja hijau karena ada dugaan penganiayaan hewan yg bisa dituntut sesuai Pasal 302 KUHP.

Mendebatlah si owner, bahwa kondisi anjingnya sehat2 aja kok. “Bapak2 sekalian, saya tidak berbicara tanpa bukti. silakan dilihat surat pernyataan dari dokter hewan yg terkait tentang kondisi hewan yg dimaksud. Hening. 1 point gw menangin. Lalu beliau menerangkan anjing yg ada didalam rumah itu dipelihara dgn baik. dia sayang, cuma gak bisa dibawa pindah ke rumah baru di area jelambar, karena berantem / saling gonggong dengan anjing2 dia yg lain, maka dari itu ditaro di rumah dia di ubud kencana. “Bapak ini tinggalin anjingnya tanpa makan minum, gitu? seminggu sekali aja belum tentu dateng urus mereka, kok bisa bilang begitu namanya sayang?”. Diem lagi beliau. Hampir kayak monolog lah. Gw pun terangin, bahwa Animal Defenders akan menempuh jalur prosedural di perumahan2 seperti ini. Ga asal dobrak dan comot. Dan klarifikasi, bahwa kawan2 penyayang binatang yg datang tanpa sepengetahuan kami ini adalah bukan dari animal defenders, dari pemerhati lain dan tanpa koordinasi bahwa mereka akan melakukan pembongkaran. buat kami, ini salah. Prosedur harus tetap dilaksanakan, agar terhindar dari masalah baru yg bisa menendang balik upaya rescue ini. Bapak2 ini paham semua.

Lantas gw tanya, bapak jadi laporin saya ke polisi atas pasal pencurian? silakan pak. saya akan tanggung jawab. saya juga akan laporkan bapak juga kok, bukti dah terpenuhi semua. Lalu terkesan si Timothius ini melunak, dan berbicara dalam nada lembut, ga seperti saat ditelp tadi. Kawan2 dilokasi pun bilang, bahwa beliau tadi galak banget bahkan beringas, motor tukang kunci ditabrak mobilnya, etc, teriak2 ke tante fifi cs. Lha, saat kita dateng kok meletot gini? hihihi … Mungkin tampang mereka2 yg ada dilokasi duluan tadi, enak dipandang. berarti lembek? mungkin aja. makanya menggila deh tuh owner. mungkin juga karena security numpuk banyak bener. lha kita2 yg dateng belakangan ini, tampangnya gak ada yg enak diliat mata. hahahaha … males kali ya …

All in all, gw sampaikan bahwa kami gak akan berikan lagi anjingnya, bukan dalam rangka ingin memiliki, tapi dalam rangka merehabilitasi kondisi dan mengembalikan kehidupan yg layak bagi mereka. Mereka akan dirawat di Pondok Pengayom Satwa (Billy dan Bona, kedua anjing yg dari dalam rumah) dan akan diberikan akses bagi owner tuk menjenguk mereka, dengan catatan tidak ada agenda membawa mereka kembali. Beliau menyatakan beliau sayang kepada anjing2nya, beli aja sanggup kali harus beli lagi, tapi sayang sama yg udah dia telantarkan. Buat gw, gak akan gw ambil resiko mengembalikan mereka ke tangan org yg nyaris membuat mereka mati sengsara. Apapun resikonya, gw tanggung. Dia laporin gw pasal pencurian, walau gw harus masuk bui karena itu, gpp. gw siap sedia akan resiko itu. Pun, gw akan melakukan perlawanan. Ga akan pasrah. Bahagia, mengetahui dukungan dari kawan2 begitu besar. aaah …. ternyata hati nurani belum mati. kalian semua masih mau membela hewan2 terlantar, teraniaya dan terlupakan ini.

Fernando saat tiba di rumah gw, disambut langsung sama penghuni sini. gak ada proses gontok2an. gak pake marah2an. langsung diciumin sama penghuni lain, buntut langsung goyang2. Hahaha… dia menemukan kembali kehidupan nyata? mungkin. yg gw tau, fernando selalu adem matanya saat liat gw. ada damai disana sekarang. Makan dia lahap banget. gak dogfood, gak rawfood. ayam rebus tetap menjadi favorite dia. kuantitas makannya gw jaga, bertahap naik. biar gak kaget ya. tenang, gak akan kekurangan makan kamu disini, nak ๐Ÿ™‚

Begitu juga dengan Bona dan Billy. Kondisi mereka semakin bagus. mereka akan diadopsi oleh Bu Diah, seseorang yg memberikan apa yg terbaik buat anjing2 yg dipelihara / diadopsinya. Buat gw, kepastian hidup bagi anjing2 malang yg pernah meregang nyawa kelaparan kehausan ini, nomer satu. Dan mengetahui bahwa ada orang tua baru yg benar2 memberikan kehidupan layak, adalah bayaran akan semua jungkir balik ini. selalu. ini yg tidak pernah bisa dikejar, dibeli oleh materi.

Gw ga jadi bawa kasus ini ke meja hijau. Niat awalnya pengen jadiin pengalaman soal perjuangan animal welfare sampe ke ranah hukum. Tapi mengingat akan ada “kawan” dari lingkup pecinta binatang yg akan terseret kasus perusakan property karena mereka tdk koordinasi dulu dgn Animal Defenders kala memaksa masuk ambil anjing2 yg didalam, niatan ini gw urungin. Mungkin, org2 ini memang annoying dan malah memfitnah gw. Bilang gw lembek sama si owner, karena ga jadi bawa ke ranah hukum. Whatever they say. Gw lakuin ini demi kepentingan yg lebih besar, perjuangan animal welfare. Konyol kesannya, klo gw ga peduli dan hantam kromo asal maju, tapi ada “kawan” setujuan yg malah kena getah juga. Sekali lagi, silakan labelin gw lembek, inkonsisten, atau bahkan “terbeli”. I don’t give a fuck. Gw lakuin apa yg menurut gw terbaik.

Apapun yg akan terjadi nanti akibat kasus ini, gw siap sedia.

Never retreat, Never Surrender. Forever in the front line.

Iklan