Cari

Kucing Budug

serangkaian celoteh tentang apa yg melintas dikepala. itupun jika jemari ini sempat menari di keypad. @doniiblis for a quick response.

bulan

Agustus 2013

Loyal Opponent

Tuhan….

Begitu mereka memanggilmu.
Namun tidak bagiku.

Namun agar mudah mencerna,
Mari kita panggil seperti itu saja.

Tuhan, maafkan aku atas banyak hal.
Maafkan aku, tidak mengakuimu.
Maafkan aku, banyak memiliki tanya akan konsepsimu seperti org2 normal.

Tuhan, seperti deskripsi mereka, engkau maha mengetahui dan maha merencanakan.
Maka inilah aku berdiri, bagian dari rancanganmu selama ini.
Dimana aku berdiri tak memperdulikanmu sama sekali.

Tuhan, jika engkau maha pengasih, limpahkan kasihmu kepada orang yg tak berbelas kasih, agar keseimbangan terjadi.

Tuhan, terimakasih atas semua teka-teki hidup.
Engkau tentunya membuat bingung umatmu yg bertanya jika berpijak sepertiku.
Jika ada kejahatan terjadi, mengapa engkau biarkan? Jika engkau sanggup namun diam saja, engkau kejam. Jika engkau mau bertindak tp tak berdaya, maka engkau tidak kuasa. Jika engkau tidak sanggup dan tidak bs bertindak, bagaimana dgn deskripsi tadi, ya Tuhan?

Apapun, ada engkau ataupun tidak, dunia harus berimbang. Alam kami sekarat. Bantu kami, sentil umatmu yg sotoy ttg dirimu bahkan aku yg sok monolog kepadamu.

Sampai Jumpa….

Sincerely,
Your Loyal Opponent

When the world stops turning

Salah satu malas yg maha dahsyat buat gw, nulis kenangan ttg kematian/kehilangan seseorang, sesuatu, atau apapun yg punya dampak besar di porak-porandanya perasaan dan yg sering org sebut dgn Hati.

Ngetik ini aja estafet.

Bentar2 diclose. Lanjutin bbrp saat kemudian. Bahkan lebih dari seminggu tuntasin ini.

Berat bgt tuk bongkar lemari ingatan, apa2 saja yg jadi helai memory hari demi hari yg terekam jelas sebagai moment2 utama di hidup target yg akan gw ceritain.

Sekitar februari tengah, gw terima laporan via twitter. Pelapor ini nemu 2 anak anjing, didalam plastik kresek warna hitam, diikat erat. Ditemukan disebuah halte di cengkareng.

Entah apa maksudnya manusia yg buang mereka. Apakah ingin taro mereka lalu menuju lokasi berikut, seperti skenario pencurian. Atau sengaja membuat mereka perlahan mati lemas.

Pelapor cerita dia sangka bungkusan yg bergerak2 itu tikus. Tp seperti ada suara rintih anak anjing. Dia selidikin ternyata benar anak anjing.

Via telp kami bicara, dan minta dia antarkan dua anak anjing ini ke Rumah Singgah Ciledug.

image

Eva Braun dan Evita Peron, gw namain mereka. Eva Evi. Terinspirasi dari dua wanita yg mendunia, walau berbeda latar belakang. Berharap mereka membesar dan sehat selalu.

Mendarat di ciledug 16 Februari 2013 malam.
Dua bocah ini, ketakutan parah ketika sampai di Ciledug. Well, gpp. Toh proses adaptasi. Lalu mereka perlahan beradaptasi dgn anjing2 lain disini. Walau udah ga ketakutan, mereka ttp asik main berdua saja, sesekali puppies lain ikutan seru2an…

Hari2 kemudian adalah cerita berbeda. Kedua bocah lucu mungil ini menjadi salah 1 keriaan tersendiri di Rumah Singgah Ciledug. Rumah Singgah bagi hewan2 terlantar dan teraniaya sebelum mendapatkan adopter. 

image

image

image

image

image

image

Melihat perkembangan yg bagus dan kesehatan yg stabil, menggulirkan mereka pada proses siap tuk diadopsi. Karena, mereka tandem alias gandeng banget, gw cari adopter yg sanggup dan mau tuk adopsi mereka berdua sekaligus. Ga gampang. Ada yg mau, tapi tanya ras apa. As usual, gw lsg males. Ada yg mau, ras apa aja, tapi satu aja. Sampai suatu ketika menawarkan mereka tuk diadopsi oleh salah 1 ibunda penggiat kepedulian hewan2 terlantar. Beliau mau, tapi butuh waktu sepertinya. 

image

Waktu berjalan, gw sendiri jadinya ga tega klo mereka diadopsiin. Dah biar deh jadi anak gw aja selamanya. They were just too sweet. Really. Karakter mereka, yg sepertinya memang terkait dari trah mereka, yg riang, cerewet, aktif banget, bikin suasana shelter mini ini jadi ceria. Balanced. Makan ga pernah rewel, malah agak unik, mereka suka bgt buah2an. Rambutan, duku, duren, etc. Tapi jumlahnya dijaga, biar ga mempengaruhi perut mereka. 

image

image

image

Suatu siang, gw keluar cari makan. Warteg langganan jadi tujuan. Hanya sekitar 20 menit, udah balik kerumah lagi.

Masuk ke ruangan utama, liat Evi tiduran ditempat yg ga biasa, di tengah2 ruang.

Biasanya dia dan Eva sukanya tidur ya nyempil2, ditempat yg tinggi, atau nempel tembok. Ga pernah seperti ini. Gw deketin, bangunin. 

“Hey nak, kok tumben. Pindah yuk.”

No respons. Gw senggol pinggulnya.

“Evi.. Pindah yuk.”

No respons. Aneh. Dia yg sigap bgt klo lagi tidur dan kesenggol.

Baru perhatiin dgn seksama, ga ada naik-turunnya dadanya.

No breath. 

Seketika kayak kena samber petir tengah hari somplak.

Cek sekujur badan, ga ada tanda2 kekerasan/luka. Cek sekelilingnya, ga ada darah atau apapun. Anjing2 lain pun berlaku biasa aja. Badannya masih terkulai lemas, belum rigor mortis.

image

image

Gendong, berharap dia cuma becanda. Gak.
Dia serius, beneran dah pergi. 
Gw gendong, duduk di teras. Michelle, Mabelle dan kawan2 satu per satu cium endus2, penasaran sepertinya. Atau mgkn say goodbye? I dunno. Pengen rasanya biopsi tuk mencari tau penyebab kematian sesungguhnya. Tapi, rasanya ga tega badannya diedel-edel.
Yowis. Kuburin aja.

Si kembar yg tersisa, Eva Braun, kecarian. Lari sana sini, gonggong memanggil kembarannya.

Nihil. Mondar mandir aja. Duduk. Mondar mandir lagi. Duduk lagi.

Gw coba temenin dia. Dan Eva anteng duduk di paha ini. Mgkn gw yg sotoy, tp gw sendiri ngerasa dia nyaman, tadinya kecarian. 

image

Waktu berjalan. Shelter cisalak mulai menunjukkan kepastian berdirinya, dan diawal-awal pendiriannya, chester dan eva adalah anjing2 yg pertama hadir disana, setelah pembabatan semak belukar yg tingginya nyaris se Nasrul.

Kebayang kan, tanah luas yg blm pernah mereka explore, cuaca cerah. Lari sana sini, berkejaran, terguling, lari lagi, duduk disamping gw, kecapean, lalu becanda ringan, dan tertidur. Satu scene yg ga akan bs lepas dari kepala ini. So happy. 

image

image

Eva selanjutnya ikut ke program2 edukasi dan undangan interview dgn stasiun televisi.

Perangainya yg tenang, ga gampang stress, easy going, sok tau, exploratif, serta mudah beradaptasi dgn lingkungan baru, membuat pilihan siapa yg dibawa selalu jatuh ke anak cantik ini. 

image

image

image

Saat wabah parvo menyerang kemarin di juni 2013, 16 ekor anak kami wafat ga bertahan, tumbang dalam kurun 4 hari. 12 dirawat di 3 vet berbeda, dan hanya Eva yg survive dr 4 anjing yg di Vita Pet, dan Austin yg bertahan di Drh. Wywy.

image

image

image

Eva yg diperbolehkan pulang setelah dinyatakan aman namun ttp hrs dikarantina di shelter selama seminggu. 

Selepas minggu pertama karantina, Eva dilepas ke ruang utama. Senangnya bukan main. Teriak2, lari2 heboh, dikejar anjing2 lain yg endus2 dia dan seolah penasaran, where u been, sista?

Hari2 berjalan normal. Tanda2 vitalnya normal saja. Saat dia tidur, gw sering perhatiin. Nafas normal, bau mulut normal, suhu badan normal. Ga cuma eva. Observasi umum gw lakuin ke anak2 lain.

Terlebih jika hujan berkepanjangan. Dah bs dipastiin gw ga nyaman tidur. Kebangun. Harus cek anak2. Walau sblmnya gw tau mereka baik2 aja. 

24 juli.
Eva aneh. Naik ke paha, dan tidur. Posisinya yg bikin bingung. Kaya meluk paha/dengkul gw.

image

25 juli 2013. Hari yg ngerubah mood, pandangan, dan miringnya kapal sikap ini ngeliat hidup, digampar badai yg datang ketika berita ditemukannya Eva dlm kondisi tak bernyawa.

Saat boker di toilet shelter, ada ketukan tergesa.
“Pak, pak…” Suara oki terdengar khas.
“Yo Man, apaan?” Bales gw.
“Pak.. Pak…”
Damn, this is not good. Msh blm cebok. Gw diri, buka pintu sedikit.
“Apaan?”
“Pak, Eva wafat…”
“FUCK!!!! Dimana?”
“Itu disitu, tiduran ditanah”

Rasanya pgn lari aja ga peduli ni pakaian.

Kepala ini lsg terasa gelap. Kencang, keras, panas, sakit. Pengen teriak. Pengen ngamuk.

I put myself together. Gw tenangin diri sebentar. Baru keluar toilet.

Jalan menuju Eva ditemuin. Eva udah dipindah ke dipan biasa dia duduk2.

Gw angkat, gendong. Gw taro mulut gw dimulutnya, gw tiup udara. CPR. Ya. Gw blm bs terima dia wafat. Gw usaha terus. Apa lacur, dia emg ga bergerak lagi.
image

image

image
image

image

image

Gw taro lagi Eva ke dipan.

Beranjak ke area ditemukannya Eva. Ga ada tanda2 apapun. Ga ada darah, kencing, feses, mencret, atau apapun. 

Eva ga suka tanah. Eva ga suka kotor. Dia ga akan tiduran ditanah. Dia akan milih ditempat tinggi. Dipan, tembok, atau bahkan pot dengan tanaman yg enak tuk didudukin.
image

Ada jalan tuk memastikan penyebab kematian Eva. Biopsi. Tp gw ga akan tega liat mayat Eva diobok-obok. Ok, Gw relain kondisi ini, dan minta anak2 siapin liang kubur tuk Eva.

Gw masuk ke kamar, cari kaos gw. Yg gw temuin langsung gw ambil. Kebetulan kaos Animal Defenders gw. Masih bau badan gw. Perfect.

Gw pakein itu baju ke Eva. Merapikan lidahnya yg terjulur. Ciumin dia. Entah yg keberapa.

Menitikkan air mata ini ke dia. Titip betapa sayangnya Papamu ini nak, melalui titikan air mata ini. 

What I hate most from being rescuer and a father to these beautiful creatures is that I have to deal with many deaths, unexpected one, and burry them myself.

Jalan menuju liang kubur Eva, anak2 lainnya ngiringin dibelakang. Michelle, Mabelle, Chester, snowy, etc.

Cek liang kubur. Ukuran pas. Turunin Eva, rapikan, tutup kepalanya dgn baju.

Sampai jumpa, malaikat kecil.

Terimakasih, udah mampir dihidup gw. Lo udah bawa satu lagi makna hidup, dalam artian dan spektrum yg selalu berbeda. Lo ajarin gw gimana caranya selalu ceria hadapin sulitnya hidup. 

Tarik tanah sekitar tuk tutup kubur eva. Merapikan sekadarnya, lalu kawan2 lain take over. 

Masih blm percaya. Berhari2 gw coba let go, I can’t. 
image

image
image

image

image

image

image
image
image

image

image

image

Hari senin 28 Juli, gw ambil nisan pesanan.
Lalu beli rumput dan beberapa tanaman hias. Mulai ngedekor taman buat eva, tepat diatas kuburnya.

image
Begitu beresin taman selesai, chester lsg ambil posisi sendiri seperti ini.

image
image

image

image
image

Begitu pula obott dan nando. Semua ambil posisi sendiri.

Hari kamis 1 agustus beli bbrp meter rumput jepang lagi dan bbrp tanaman hias lainnya, plus 3 tangkai mawar.
image
image

And we play some songs in her grave. Berharap bisa bernyanyi bersama kamu, nak…
image

image

image

Gw tau, betapa ini tdk berguna lagi buat dia. 

Boleh gak gw jadi irrasional sejenak?
Boleh gak gw mau anak gw balik lagi?
Boleh gak gw ngarep ini cuma mimpi?
Boleh gak gw dpt 1 perpanjangan waktu, buat Eva dan anak2 lainnya, tuk liat mereka tumbuh dewasa dan wafat seperti umur normalnya?
Boleh gak-Boleh gak lainnya masih banyak.
Masih terlalu banyak…

Eva seperti kembali ke shelter tuk say goodbye, memuaskan rindu setelah dipisah dari yg lain krn parvovirus kmrn.
Mungkin, eva udah saatnya “pulang” saat parvovirus melanda, melihat betapa lemasnya dia dibanding yg lain.

Namun, Eva seperti spesial. Dia dapet extended time tuk dihabiskan bersama kami di shelter.

Namun pada akhirnya extended time itu habis. Dan semua berhenti berputar. Buat gw. 

~~~
I’m here, like I used to be
I’m here, waiting for you
I’m here, sugar. I’m here
I’m here, just come back

Remember the time we spent, baby?
Remember all the pain and joy we went through?

If you can’t come back 
Then wait up there, sweetheart
Sooner or later I will join you
We all will meet again
In our own paradise
And there will be no more goodbye
Forever be by your side…
Till then, be good…

I love you.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑