Cari

Kucing Budug

serangkaian celoteh tentang apa yg melintas dikepala. itupun jika jemari ini sempat menari di keypad. @doniiblis for a quick response.

bulan

Maret 2014

KITA. PENCURI.

Masih gatel mau meluruskan (lagi) soal pelekatan istilah “mencuri” bagi hewan2 yg ada disekitar kita. Bosan? Silakan. Gw gak. Ga peduli apa kata kalian, setidaknya jika satu org saja bs tergugah melalui celoteh ini, dimandikan dgn air es kala terik matahari menyengat tanpa ampun.

Mencuri.
Kucing. Anjing. Kera. Kancil.
Siapapun yg kalian tuduh mencuri itu.

Apakah mereka mencuri lebih banyak dari sekedar mengenyangkan perut mereka yg selalu rutin menggetarkan sinyal lapar alamiah?
Tidak.

Apakah mereka mengambil banyak dr kebutuhan sekali makannya dan menyimpannya di balik semak, di urukan pasir, atau bahkan di lemari makan?
Tidak.

Mereka menjalankan kodrat alami mahluk hidup. Makan untuk survival.

Patut diingat, kita lah yg berlaku sebaliknya. Ambil, keruk sebanyak2nya dr alam, buat diri sendiri, tak peduli apa.

Alam ini bisa berjalan normal saja tanpa kita, manusia.
Alam ini tidak akan compang camping jika manusia tidak ada.

Namun sebaliknya, kita akan seperti apa tanpa dukungan alam?
Apa jadinya kita tanpa tumbuhan?
Apa jadinya kita tanpa hewan?

Jangan angkuh.

Kita lah sang pencuri itu.
Kita lah yg membuat mereka mengambil sedikit dr kita.

Kenapa marah? Kan kita yg mencuri banyak dr alam.

Kita, manusia. Gagah perkasa? Mungkin.
Gagah perkasa kepada siapa? Yg lemah tak berdaya mempertahankan diri jika kita amuk? Rasanya, menjijikkan jika kita masih berlaku seperti itu.

Merasa gagahlah engkau, jika berani membusungkan dada dan menantang dgn tangan kosong, seekor beruang grizzly. Itu baru sepadan dgn arogansi kita.

Senapan digenggam. Kucing yg dijadikan target. Anjing dibantai. Sampai disitu kah rasa berkuasa mu?

Dgn sedikit “kuasa” ditanganmu itu saja, engkau telah lalim.

Bagaimana jika kuasa tersebut diperluas, ditingkatkan? Tak terbayang.

Pernah ada hewan yg semena-mena menghabisi manusia karena ingin memenuhi rasa senang saja? Jawab sendiri.

Jangan pernah labeli hewan yg bertahan hidup ini dengan MENCURI. Mereka mengambil apa yg menjadi hak mereka.

KITA YANG PENCURI.

Iklan

Mengerti – Pahami – Maklumi

Bergidik, jelas. Melihat foto seekor kucing dengan genangan darah disekitar kepala, dilantai dimana dia tergolek lunglai tak bernyawa.

Yg lebih bergidik, posting ini dibuat oleh pelaku penembakan kucing ini, dan mengakui dgn bangga inilah kucing kelima dari sembilan kucing yg dia bunuh dgn senapan angin.

Pelaku udah kami, Animal Defenders Indonesia, laporkan ke Polres Sleman dengan pasal 302 KUHP ayat 2. Polisi berjanji maximal 1 minggu sudah ada follow up. Kami berharap ini akan menjadi tonggak penegakan hukum atas animal-abuse / animal-cruelty yg selama ini belum pernah berdiri tegak.

Gw ga mau bahas soal sompret diatas. Muak. Rasanya pengen eye-for-an-eye, fight fire with fire. Tapi, pada titik ini, semua udah ga bisa seperti dulu. Semua harus tertata dan lebih fokus demi tujuan jangka panjang. RIP old me.

Gw mau bahas sedikit tentang si pelaku, termasuk kita, berandil kepada perilaku si mpus.

Kenapa pelaku berlaku kejam? Awalnya, mengaku bahwa mereka adalah korban testing peluru senapan anginnya yg terbaru. Lalu melalui komen di posting tersebut, menyatakan bahwa itu dipicu pelaku kesal karena kucing2 tersebut sering mencuri di rumah pelaku.

Sebentar. Ada yg mau langsung gw protes dulu. Ini biasa terjadi dimana, bahwa kita menggunakan definisi kita atas apa yg dilakukan oleh binatang. Jelas, gw merasa perlu untuk memposisikan ini dalam kondisi yg lebih adil, lebih proporsional.

Kucing, mencuri, menurut definisi manusia, kita. Kenapa dia mencuri? Karena dia mengikuti insting survival. Dia harus makan, no matter what. Apakah dia akan makan dr sampah-sampah kalian, apakah dia akan berburu hewan mangsa dia, apakah dia akan menyelinap diantara kaki kalian kala kalian bersantap dirumah makan, apakah dia harus beraksi sampai ke meja makan kalian, itu adalah survival. Kucing, ga bs berkata gamblang “saya lapar, tolong kasih makan saya”. Tapi kucing yg biasa berinteraksi dgn manusia, akan mengeong. Bunyi dan intonasinya beda. Perhatikan. Beda nada dan intonasinya dengan tujuan lain dia. Kalian, maaf, kita, yg harus lebih peka. Oh, ini dia lapar. Kita WAJIB bantu si mpus.

Si mpus ini apakah bisa utang ke warung kala dia lapar? Tidak.

Si mpus ini apakah bisa minta ke temannya, kala dia lapar? Tidak.

Si mpus ini apakah bisa membeli makanan ke warung? Tidak.

Si mpus, karena lingkungan yg semakin tidak menyediakan makanan buat dia, akan “menginvasi” area makan kalian. Akan mempertahankan hidupnya, dgn apapun cara dia mendapatkan makan. Kenapa dia menginvasi area makan / meja makan kalian? Karena dia lapar. Kenapa lapar? Karena, mungkin, cara mudah menemukan makanan disekitar dia, makin susah. Kenapa makin susah? Karena, perkembangan lingkungan yg makin tidak mendukung dia cari makan. Atau, kalian tidak mau membantu dia. Hey, lo bisa pake gadget bagus, baju keren2, kendaraan punya, dan sederet apalah itu di daftar property lo, tapi lo ga mau berbelas kasih sediain makan buat mereka? Oh yeah. Great.

Lo mau kucing2 ini ga “mencuri”? Sediakan makanan. Simple, right?

Lo mau kucing2 ini ga sembarang boker / kecing? Kita bantu sediakan bak-bak plastik berisi pasir zeolit. Ini akan sangat membantu mengurangi pup+pee mereka dimana2. Pasir zeolit bs kalian cuci, bersihkan, lalu jemur dan dipake ulang. Hanya butuh sejumput kerelaan dan sebungkus niat membantu, semua beres.

Ketika kita melihat ada kesalahan dari mahluk lain, dalam hal ini, kucing, kita punya andil disitu. Kita, ikut bersalah. Kita, punya kemampuan mengkoreksi kesalahn tersebut. Terkutuklah kita, yg mempunyai kemampuan mengatasi masalah, namun berdiam diri. Ga mau repot. Ga mau mengurangi “kesalahan” si mpus yg efeknya ke kita dan lingkungan. Tapi hanya bisa menuding si mpus yg bersalah. Kalian meneruskan bibit tirani yg memang telah tertanam di manusia, kodratnya.

Ada di comfort zone, lalu menjadi malas tuk berbuat, lalu masuk ke zona “komentator” alias kaum yang cuma bisa cuap2, komen sana sini, cuma bisa marah2, cuma bisa sibuk ngomel di socmed, dan cuma ambil tindakan pintas mengatasi masalah tanpa bijak melihat apa yg menjadi permasalahan sejatinya. Oh yeah.

Maju selangkah lagi yuk. Kita keluar, dari comfort zone kita. Ga muluk2 ngarepin lo ikut join di battle zone. Cukup keluar 1cm dari zona nyaman kalian, repot2 sedikit buat si mpus. Mengerti dia, pahami. Maka kalian akan maklum. Dengan maklum, kalian akan tidak merasakan gangguan apapun.

Mengerti – pahami – maklumi. Tiga urutan yg sebaiknya kita pakai dalam menganalisa sesuatu seperti ini.

Maukah kalian?

Semua kembali ke nurani.

Tengok sedikit ke dalam situ.

Sibak.

Masih ada di hatimu? Bagus.

Selamat. Anda harus bergerak. Demi mpus-mpus dan mahluk2 lain yg butuh bantuan diluar sana.

Butuh lebih dari sekedar komen atau nyinyir tuk bisa ubah dunia.

Gw percaya, lo bisa.

Salam…

Blog di WordPress.com.

Atas ↑