Masih gatel mau meluruskan (lagi) soal pelekatan istilah “mencuri” bagi hewan2 yg ada disekitar kita. Bosan? Silakan. Gw gak. Ga peduli apa kata kalian, setidaknya jika satu org saja bs tergugah melalui celoteh ini, dimandikan dgn air es kala terik matahari menyengat tanpa ampun.

Mencuri.
Kucing. Anjing. Kera. Kancil.
Siapapun yg kalian tuduh mencuri itu.

Apakah mereka mencuri lebih banyak dari sekedar mengenyangkan perut mereka yg selalu rutin menggetarkan sinyal lapar alamiah?
Tidak.

Apakah mereka mengambil banyak dr kebutuhan sekali makannya dan menyimpannya di balik semak, di urukan pasir, atau bahkan di lemari makan?
Tidak.

Mereka menjalankan kodrat alami mahluk hidup. Makan untuk survival.

Patut diingat, kita lah yg berlaku sebaliknya. Ambil, keruk sebanyak2nya dr alam, buat diri sendiri, tak peduli apa.

Alam ini bisa berjalan normal saja tanpa kita, manusia.
Alam ini tidak akan compang camping jika manusia tidak ada.

Namun sebaliknya, kita akan seperti apa tanpa dukungan alam?
Apa jadinya kita tanpa tumbuhan?
Apa jadinya kita tanpa hewan?

Jangan angkuh.

Kita lah sang pencuri itu.
Kita lah yg membuat mereka mengambil sedikit dr kita.

Kenapa marah? Kan kita yg mencuri banyak dr alam.

Kita, manusia. Gagah perkasa? Mungkin.
Gagah perkasa kepada siapa? Yg lemah tak berdaya mempertahankan diri jika kita amuk? Rasanya, menjijikkan jika kita masih berlaku seperti itu.

Merasa gagahlah engkau, jika berani membusungkan dada dan menantang dgn tangan kosong, seekor beruang grizzly. Itu baru sepadan dgn arogansi kita.

Senapan digenggam. Kucing yg dijadikan target. Anjing dibantai. Sampai disitu kah rasa berkuasa mu?

Dgn sedikit “kuasa” ditanganmu itu saja, engkau telah lalim.

Bagaimana jika kuasa tersebut diperluas, ditingkatkan? Tak terbayang.

Pernah ada hewan yg semena-mena menghabisi manusia karena ingin memenuhi rasa senang saja? Jawab sendiri.

Jangan pernah labeli hewan yg bertahan hidup ini dengan MENCURI. Mereka mengambil apa yg menjadi hak mereka.

KITA YANG PENCURI.

Iklan