Berita ttg pemusnahan puluhan anjing di Gilimanuk sore ini, telah menyebar kemana2 dan sepertinya ada kekeliruan besar dibalik kasus ini.

Pertama, kita, dalam posisi pemilik anjing, jika ingin berpergian atau terlebih pindah domisili ke suatu daerah, alangkah baiknya jika kita mengecek terlebih dahulu peraturan daerah terkait atas alur masuk+keluarnya hewan, termasuk hewan2 peliharaan dan HPR (Hewan Penular Rabies) yakni kucing, anjing, kera.

Kedua, penuhi standar minimum kesehatan peliharaan kita dengan vaksin secara rutin. Simpan buku vaksin/dokumen terkait, dan bawalah serta jika berpindah tempat.

Pada kasus Gilimanuk, kita harus berimbang menyikapi. Bali ditetapkan sebagai kawasan karantina penyakit anjing gila / rabies sesuai dgn Permentan no.1696 thn 2008, dan Perda Provinsi Bali no.15 thn 2009 ttg Penanggulangan Rabies, berikut tata cara penanganannya.

Artinya, arus keluar masuk bali atas hewan penular rabies, termasuk anjing kucing, dilarang. Pelanggaran atas hal terkait, akan berimbas pada penolakan/pemulangan hewan tsb jika owner/pembawa/pengirim bisa hadir/dikontak/diminta tuk bertanggungjawab mengembalikan mereka. Jika tidak ada yg bertanggung, maka petugas karantina terkait akan melakukan tahapan paling akhir yg bs mereka lakukan, pemusnahan HPR. Logis, mereka hrs kirim balik kemana hewan2 yg tak berpenanggung-jawab ini, dan tdk mgkn meresikokan daerah lain menerima hal tsb.

Dalam hal ini, integritas petugas perlu kita hormati.

Dua kucing persia dan bbrp burung dikirim balik ke daerah asal karena ada yg bertanggungjawab.

Yg menjadi permasalahan adalah pengirim/pembawa hewan tersebut, berani2nya coba memasuki daerah yg mempunyai Perda ttg area bebas rabies dan melarang arus keluar masuk anjing kucing kera.

Karena ketidaktahuan, ketidakpedulian, atau mungkin masih menganggap petugas bs di”damaikan” dgn uang, maka hewan2 ini yg menjadi korban.

Kami menghimbau, kawan2 yg hendak mengirim anjing/kucing ke area tertentu, untuk mengecek peraturan daerah terkait terlebih dahulu. Googling mudah bukan? Daripada berujung kematian yg tdk perlu.

Daerah lainnya selain Bali ada Papua, pandeglang, NTB, Lampung, dan bbrp daerah lainnya.

Mari, jadi owner dan pemerhati hak hidup satwa yg lbh cermat, dan berimbang dalam menyikapi sesuatu. Jgn hanya bermodal emosi dan informasi yg timpang, lalu ikutan menyebarkan info yg kurang berimbang + fair.

Salam,

Iklan